Friday 7 March 2014

Tabula Rasa : Sebuah Rasa Baru Bagi Perfilman Indonesia




Setelah sukses memproduseri film pintu terlarang (2009) dan Modus Anomali (2012) yang penuh ketegangan dan mendapat banyak review positif baik dari dalam negeri maupun mancanegara, kali ini rumah produksi Lifelike Pictures akan menghadirkan film ber-gendre family drama yang akan mengangkat kekayaan masakan Indonesia berjudul Tabula Rasa. Makanan dalam budaya Indonesia sudah merupakan bagian dari keseharian. Masakan dan makanan Indonesia memiliki banyak nilai filosofis kehidupan, makanan bukan hanya sebagai pengisi perut tetapi juga metaforaperayaan hidup. Makanan Indonesia kaya dan beragam, dan juga telah diakui kehebatanya oleh dunia.

Tabula Rasa bercerita tentang hans, pemuda asal Serui, Papua, yang bercita cita untuk menjadi seorang pesepakbola profesional. Namun nasib berkata lain, pada saat hans hampir kehilangan semangat hidupnya ia bertemu dengan Mak Uwo, seorang pemilik rumah makan Minang sederhana (lapau). Ditengah perbedaan mereka , Hans dan Mak Uwo menemukan persamaan. Mimpi dan semangat hidup terbentuk kembali lewat makanan dan masakan, makanan adalah itikad baik yang menemukan mereka berdua.

Tabula Rasa  yang akan dirilis pada akhir tahun 2014 ini telah melalui proses persiapan yang panjan. script  yang ditulis oleh Tumpan Tampubolon ini di dukung oleh research intensif selama hampir satu setengah tahun. Detail masakan, makanan dan budaya dalam film Tabula Rasa didukung oleh beberapa tenaga ahli di bidangnya seperti Culinary Advisor Chef Adzan, mantan Executive Chef untuk hotel Hyatt Jogjakarta, pemilik restoran Sapi Bali dan ahli kuliner Indonesia yang tergabung dalam Maharasa Indonesia dan Reno Adam Suri, penulis buku Rendang Traveller. Maestro tari dan budaya minang Tom Ibnur juga turut membantu para pemain sebagai Dialect Coach dan Tehnical Advisor khusus budaya Minang.

Tabula Rasa yang dalam bahasa latin berarti "Kesempatan memulai sesuatu dengan prasangka" akan menjadi debut pertama Adriyanto Dewo sebagai Sutradara film panjang. Adri yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara film pendek dalam film Omnibus "Sanubari Jakarta" dalam segment "Menunggu Warna"  dan Omnibus "Hi5teria" dalam segmen "Pasar Setan" merupakan sutradara muda yang memiliki potensi yang sangat menjanjikan. "Tabula Rasa adalah naskah yang telah saya tunggu-tunggu selama ini. Saya selalu tertantang untuk bisa menyutradarai sebuah film yang dekat dengan keseharian kita. Tabula Rasa adalah cerita yang sangat humanis, yang bercerita tentang kerinduan. "kata Adriyanto Dewo.

"Adri selaku sutradara dan tumpal sebagai penulis Tabula Rasa  memiliki prestasi yang sangat baik di industri film tanah air, selama proses persiapan terlihat kematangan mereka dalam berkarya. Tabula Rasa akan mendatangkan angin baru bagi perfilman Nasional". ujar Sheila Timothy selaku produser Tabula Rasa. Dalam film ketiganya ini, Sheila juga menggaet aktor kenamaan Indonesia, Vino G Bastian yang untuk pertama kalinya bekerja di balik layar sebagai Associate Producer. "Tabula Rasa adalah kesempatan untuk bekerja diluar zona nyaman saya sebagai seorang aktor, saya rasa Tabula Rasa  akan jadi terobosan baru dalam industri film Indonesia. "tutur Vino

Proses shooting Tabula Rasa yang akan berlangsung 26 Januari sampai akhir Febuari 2014 Ini juga di dukung oleh Penata  Artistik Terbaik FFI 2013,  Iqbal Marjono  yang akan membangun sebuah lapau khusus untuk set shooting Tabula Rasa. 
Tabula Rasa  adalah film dengan sub genre Food Film. Makanan dan Masakan dalam film ini harus dapat merangsang indra penonton, Amalia selaku Director of Photograpy  akan menggunakan kamera Alexa XT Plus. "Kebutuhan untuk menangkap detail dan cahaya sangat dibutuhkan untuk  Tabula Rasa. Terutama untuk shot-shot makanan dan konsep penggambaran yang diminta oleh sutradara, untuk itu Camera Alexa XT Plus dengan resolusi tinggi merupakan pilihan terbaik untuk Tabula Rasa," ujar Lia. "Hasil output Alexa XT Plus yang berupa uncompresesed raw  akan sangat membantu proses coloring dalam post-production", tutur Lia menambahkan.

Meski Proses produksi baru akan berjala namun promo marketing untuk film Tabula Rasa sudah dimulai sejak 2013, salah satu promo yang dilakukan adalah tour Tabula Rasa ke Sumatra Barat untuk merasakan langsung makanan dan budaya Minang dalam film Tabula Rasa. "Membuat film hampir sama dengan memasak untuk orang banyak, dibutuhkan kerjasama yang apik dari seluruh pihak yang terlibat," ucap Sheila Timothy. Tabula Rasa didukung oleh pemain-pemain film senior Indonesia, seperti aktris senior Dewi Irawan, Yayu Unru, Ramdan Setia, dan aktor muda berbakat asal Wamena, Jimmy Kobogau.

Jimmy Kobogau,  salah satu pemeran Tabula Rasa mengatakan "Film ini menceritakan tentang dua sisi yang berbeda yang mungkin belum pernahada, menyatukan dua kebudayaan yang berbeda lewat makanan, dalam hal ini Papua dan Minang." Jimmy juga menuturkan "Perbedaan suku mungkin akan membuat komunikasinya agak terbatas, namun komunikasi bukan hanya dengan berbicara saja, tapi melalui makanan kita juga bisa mengekspresikan rasa cinta kita."

"Tabula Rasa  merupakan sebuah tema besar yang ditangkap dari narasi kecil sederhana," tambah Dewi Irawan selaku pemeran Mak Uwo dalam film Tabula Rasa. "Ide ceritanya bagus sekali, harus dibawakan dengan smooth, mengalir dengan kesederhanaan. Tabula Rasa merupakan sebuah cerita mengenai harapan dan impian. "ungkap Dewi.












1 comment:

  1. suksess buat filmnya ,,,
    gak sabar juga liat bang vino :D

    ReplyDelete